Pertanyaan apakah “kitab” menjadi sumber kehancuran adalah gugatan yang menggigit—dan wajar muncul ketika kita mengungkap sejarah Islam yang penuh luka. Tetapi sejarah jarang yang sederhana. Ia lebih mirip mosaik: keping-keping politik, ekonomi, budaya, psikologi massa, dan tafsir keagamaan saling menempel, kadang harmonis, kadang saling menggores. Untuk menilai peran kitab dalam pertikaian, kita perlu memisahkan fakta dari asumsi, membedah proses lahirnya teks dan tafsir, lalu menimbang bagaimana kekuasaan memobilisasi keduanya. Menata Ulang Fakta-Fakta Kunci Sejak wafatnya Nabi Muhammad, komunitas Muslim masuk ke fase rawan. Bukan hanya karena hilangnya figur pemersatu, tapi juga karena wilayah Islam melebar dengan cepat, sementara institusi politik dan mekanisme suksesi belum mapan. Dari dalamnya meletup Fitnah Pertama dan Kedua—dua perang saudara yang membekas panjang. Beberapa Detail Penting yang Perlu Diluruskan : Abu Bakar. Riwayat paling kuat menyebutkan beliau ...
Komentar
Posting Komentar