Langsung ke konten utama

Bukan Sekadar Tulisan, Pegon adalah Denyut Nadi Identitas Islam Jawa

Bukan Sekadar Tulisan, Pegon adalah Denyut Nadi Identitas Islam Jawa


Bayangkan sejenak: di sebuah sudut remang pondok pesantren tua, seorang kiai membungkuk di atas lembaran kertas kusam. Tangannya menarikan kalam, merangkai huruf-huruf yang familier bagi mata Arab, namun saat dilantunkan, yang terdengar adalah medoknya bahasa Jawa. Inilah Pegon, sebuah paradoks yang indah; aksara yang berwajah Arab namun berjiwa Nusantara.


Pegon bukanlah sekadar alat tulis. Ia adalah monumen dari sebuah pertemuan budaya yang luar biasa. Namanya sendiri, konon berasal dari kata Jawa pégo yang artinya "menyimpang", seolah menjadi cerminan karakternya. Ia "menyimpang" dari kaidah murni tulisan Arab, tetapi justru dalam penyimpangan itulah letak kejeniusannya. Para ulama dan wali di masa lalu tidak ingin dakwah Islam terasa asing. Mereka butuh jembatan, dan Pegon adalah jembatan linguistik itu—cara agar ajaran langit bisa menyentuh dan dipahami oleh lidah bumi Jawa.


Jejaknya bisa kita lacak jauh ke belakang, bahkan hingga ke masa ketika panji-panji Majapahit masih berkibar. Sebuah naskah kuno dari Salatiga menjadi saksi bisu bahwa Pegon sudah digunakan sejak abad ke-14. Sejak saat itu, perannya terus berkembang. Di satu sisi, ia menjadi tulang punggung pengajaran di pesantren, digunakan untuk menulis makna gandul pada kitab-kitab kuning agar para santri bisa menyelami lautan ilmu fiqh dan tasawuf.


Namun, fungsi Pegon tidak berhenti di gerbang pesantren. Ia meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari catatan resep pengobatan tradisional, ramalan dalam primbon, hingga karya sastra adiluhung seperti Suluk Sunan Bonang. Bahkan, Pegon pernah menjadi "kode rahasia". Konon, para pejuang dan santri menggunakannya untuk surat-menyurat agar tidak bisa dibaca oleh mata-mata kolonial Belanda yang hanya akrab dengan aksara Latin dan Arab standar. Sungguh sebuah alat literasi yang juga menjadi simbol perlawanan.


Keistimewaannya terletak pada inovasinya. Bagaimana cara menulis bunyi "ca", "pa", atau "nga" yang tidak ada dalam abjad Arab? Para ulama tidak kehabisan akal. Mereka memodifikasi huruf yang ada, misalnya menambahkan tiga titik di bawah huruf ba (ب) untuk menjadi bunyi "pa" (ڤ), atau memberi titik di atas huruf ‘ain (ع) untuk menjadi "nga" (ڠ). Sistem cerdas inilah yang membedakannya dari aksara Jawi di Melayu.


Sayangnya, denyut nadi Pegon kini terasa melemah. Di tengah gempuran aksara Latin dan era digital yang serba instan, Pegon seolah tersisih, kembali ke habitat aslinya di lingkungan pesantren-pesantren salaf. Generasi muda lebih akrab dengan keyboard QWERTY daripada kalam dan tinta.


Meski begitu, harapan belum padam. Di berbagai tempat, seperti di beberapa madrasah di Temanggung, api pelestarian itu kembali dinyalakan. Upaya digitalisasi naskah-naskah kuno juga terus berjalan, mencoba menyelamatkan warisan intelektual ini dari gerusan zaman.


Pada akhirnya, melestarikan Pegon bukan sekadar urusan teknis alih aksara. Ini adalah panggilan untuk merawat jiwa. Setiap goresan Pegon adalah rekaman DNA budaya tentang bagaimana Islam dan Jawa bisa berdialog dengan begitu mesra tanpa harus saling menaklukkan. Ia adalah bukti bahwa identitas kita terbentuk dari lapisan-lapisan sejarah yang kaya. Membiarkannya punah berarti membiarkan satu babak penting dalam kisah perjalanan bangsa ini hilang selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KA’BAH DIBANGUN OLEH DEWA HINDU? MENYARING MITOS, MENEGAKKAN FAKTA

  Ringkasan Klaim bahwa Ka’bah di Makkah pernah menjadi kuil bagi Dewa Siwa beredar luas di ruang digital. Penelusuran sumber primer Islam, kajian sejarah, dan keterangan arkeologi menunjukkan klaim tersebut tidak didukung bukti kredibel [1][2]. Tradisi Islam dan kajian sejarah yang mapan justru menunjukkan kesinambungan fungsi Ka’bah sebagai pusat ibadah, dengan periode pra-Islam sebagai tempat pemujaan berhala Arab lokal—bukan dewa-dewa Hindu [3][4]. Asal-usul Ka’bah Menurut Islam dan Jejak Sejarah Perspektif Islam: Al-Qur’an menegaskan Ka’bah sebagai rumah ibadah pertama “di Bakkah” (QS Ali ‘Imran 3:96); peninggian fondasinya oleh Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS disebutkan pada QS al-Baqarah 2:127; dan doa Ibrahim terkait pemukiman Makkah pada QS Ibrahim 14:37. Sejarah dan renovasi: Ka’bah mengalami beberapa renovasi besar—oleh Quraisy sebelum kenabian, pada masa Ibn al-Zubair, periode Utsmani, hingga era modern Saudi—yang menunjukkan...

Sejarah Pertikaian dalam Islam: Kitab sebagai Sumber Kehancuran?

Pertanyaan apakah “kitab” menjadi sumber kehancuran adalah gugatan yang menggigit—dan wajar muncul ketika kita mengungkap sejarah Islam yang penuh luka. Tetapi sejarah jarang yang sederhana. Ia lebih mirip mosaik: keping-keping politik, ekonomi, budaya, psikologi massa, dan tafsir keagamaan saling menempel, kadang harmonis, kadang saling menggores. Untuk menilai peran kitab dalam pertikaian, kita perlu memisahkan fakta dari asumsi, membedah proses lahirnya teks dan tafsir, lalu menimbang bagaimana kekuasaan memobilisasi keduanya. Menata Ulang Fakta-Fakta Kunci Sejak wafatnya Nabi Muhammad, komunitas Muslim masuk ke fase rawan. Bukan hanya karena hilangnya figur pemersatu, tapi juga karena wilayah Islam melebar dengan cepat, sementara institusi politik dan mekanisme suksesi belum mapan. Dari dalamnya meletup Fitnah Pertama dan Kedua—dua perang saudara yang membekas panjang. Beberapa Detail Penting yang Perlu Diluruskan : Abu Bakar. Riwayat paling kuat menyebutkan beliau ...