Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus 18, 2025

IBNU BATTUTAH: KEHIDUPAN, PENDIDIKAN, KARYA, DAN KONTRIBUSINYA BAGI DUNIA

Abstrak Ibnu Battutah (Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn ‘Abd Allah al-Lawati al-Tanji, 1304–ca. 1368/69 atau 1377) adalah musafir dan cendekiawan Maghrib yang menempuh perjalanan lebih dari dua puluh tahun melintasi Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, India, Kepulauan Nusantara, Tiongkok, Afrika Timur, hingga Afrika Barat. Rihlah-nya—Tuhfat al-Nuzzar fi Gharaib al-Amsar wa ‘Ajaib al-Asfar—merupakan salah satu sumber primer paling penting tentang geografi, etnografi, jaringan keilmuan, dan sosiologi dunia Islam serta wilayah sekitarnya pada abad ke-14. Artikel ini mengulas biografi dan pendidikan Ibnu Battutah, lintasan perjalanannya, proses penulisan karya, nilai ilmiah dan keterbatasannya, serta kontribusinya bagi studi sejarah global, geografi, dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Dengan pendekatan deskriptif-analitis berbasis telaah literatur primer dan sekunder, tulisan ini menegaskan posisi Rihlah sebagai khazanah unik yang menjembatani teks, pengalaman lapangan, dan jaringan intelektual...

Imam Al-Syatibi: Hidup, Karya, Pemikiran, dan Kontribusi dalam Studi Maqashid Syariah

Imam Al-Syatibi: Hidup, Karya, Pemikiran, dan Kontribusi dalam Studi Maqashid Syariah Abstrak Imam Abu Ishaq Ibrahim ibn Musa al-Lakhmi al-Syatibi (w. 790 H/1388 M) merupakan ulama Maliki dari Granada yang menutup abad keemasan Andalusia dengan warisan intelektual yang langka: sebuah teori maqashid syariah yang sistematis, teruji, dan berbasis induksi menyeluruh terhadap nash. Karya monumentalnya, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah, merumuskan tujuan-tujuan syariah, prinsip taysir (memudahkan), dan metodologi istiqra’ (induksi) sebagai perangkat utama memahami hukum Islam secara substansial. Melalui kajian deskriptif-analitis terhadap karya-karya primer al-Syatibi dan resepsi intelektualnya, artikel ini menampilkan konteks biografis, fondasi metodologis, pokok-pokok gagasan maqashid, kritik dan pembelaannya, serta relevansi aplikatif dalam fiqh kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa al-Syatibi bukan sekadar “perintis baru” maqashid, melainkan “penyusun ulang” yang menyatukan turats...

Bukan Sekadar Tulisan, Pegon adalah Denyut Nadi Identitas Islam Jawa

Bukan Sekadar Tulisan, Pegon adalah Denyut Nadi Identitas Islam Jawa Bayangkan sejenak: di sebuah sudut remang pondok pesantren tua, seorang kiai membungkuk di atas lembaran kertas kusam. Tangannya menarikan kalam, merangkai huruf-huruf yang familier bagi mata Arab, namun saat dilantunkan, yang terdengar adalah medoknya bahasa Jawa. Inilah Pegon, sebuah paradoks yang indah; aksara yang berwajah Arab namun berjiwa Nusantara. Pegon bukanlah sekadar alat tulis. Ia adalah monumen dari sebuah pertemuan budaya yang luar biasa. Namanya sendiri, konon berasal dari kata Jawa pégo yang artinya "menyimpang", seolah menjadi cerminan karakternya. Ia "menyimpang" dari kaidah murni tulisan Arab, tetapi justru dalam penyimpangan itulah letak kejeniusannya. Para ulama dan wali di masa lalu tidak ingin dakwah Islam terasa asing. Mereka butuh jembatan, dan Pegon adalah jembatan linguistik itu—cara agar ajaran langit bisa menyentuh dan dipahami oleh lidah bumi Jawa. Jejaknya bisa kita ...

Ibnu Khaldun dan Napas Panjang Peradaban: Sebuah Ringkasan

Ibnu Khaldun dan Napas Panjang Peradaban: Sebuah Ringkasan Di bawah ini saya rangkum Muqaddimah bab-per-bab (versi 6 “buku” dalam satu Mukadimah) Muqaddimah secara ringkas (6 kitab) Buku I — Manusia dan masyarakat Gagasan inti: manusia butuh kerja sama untuk bertahan; dari lahir 'umran (kehidupan sosial), hukum, dan negara. Metode: cek kewajaran. Cerita sejarah harus masuk akal secara demografi, ekonomi, dan geografi—bukan hanya “dia”. Buku II — Orang badui, kabilah, dan 'asabiyyah Kehidupan nomaden menumbuhkan 'asabiyyah (solidaritas) yang kuat—energi perekat yang bisa melahirkan kekuasaan baru. Kelebihan: disiplin, keberanian, kesederhanaan. Kekurangan: cenderung keras, dan bisa merusak jika tidak diarahkan. Buku III — Dinasti, negara, dan siklus kekuasaan Negara lahir dari 'asabiyyah kuat; lalu melewati fase-fase: pendirian, konsolidasi, kemakmuran, lalu pelapukan. Di puncak kemewahan, kohesi melemah; penggantian kelompok baru yang lebih ulet. I...

Ibnu Khaldun—Kartografer 'Umran: Hidup, Pendidikan, Karya, dan Arsitektur Pemikirannya

Ibnu Khaldun—Kartografer 'Umran: Hidup, Pendidikan, Karya, dan Arsitektur Pemikirannya Ibnu Khaldun (1332–1406) sering disebut sebagai peletak dasar ilmu sosial sebelum ilmu sosial diberi nama. Ia menulis dari antara pusaran politik Maghrib, istana-istana yang rapuh, dan kota-kota pelabuhan yang sibuk—sebuah posisi yang membuat analisisnya tentang masyarakat terasa sekaligus empiris dan tajam. Tulisan ini mengulas kehidupan secara ringkas, lingkungan intelektual yang membentuknya, karya-karya utama, serta gagasan pokok yang menjelaskan mengapa Muqaddimah tetap dibaca sebagai buku “peta” tentang bagaimana peradaban bertumbuh, mencapai puncak, lalu merapuh. Hidup: antara Istana dan Padang Pasir Ibnu Khaldun lahir di Tunis dalam keluarga terdidik yang menelusuri nasab ke Andalusia dan Hadramaut. Masa mudanya berlangsung di dunia Hafsid yang kosmopolitan, tempat ilmu agama, filsafat, dan administrasi berpadu. Ia segera masuk ke birokrasi dan, seperti banyak cendekiawan Maghrib kala ...